Aside
0

Pernah gabung dengan MLM? atau setidaknya pernah di prospek oleh member MLM? 

Saya pernah! dua duanya, baik diprospek maupun gabung MLM. tapi jangan ditanya sudah sampai level apa saya di MLM, paling banter ya jadi sekedar “member” saja, gak nyampe tuh manager, diamond, double diamond, ruby bahkan director ato apalah sebutannya bagi achievement puncak sebuah MLM. Kebanyakan hanya “anget-anget tai ayam” saja, atau lebih tepatnya euforia “pelarian” dari rutinitas kerja sehari-hari yang memimpikan “time freedom” yang di-iming-iming-kan para leader dalam orasinya ketika saya pertama kalinya ikut pertemuan MLM. syaul! saya terbawa emosi dan terbuai mimpi bahwa di belahan kuadran sebelah sana “yang katanya” adalah kuadrannya para  bisnis owner yang diterjemahkan mereka sebagai kuadrannya “Pelaku MLM” akhirnya saya daftar dong!! waktu itu, 4 tahun yll, kl tidak salah sekitar 2juta rp. tambah embel2 renungan yang menggampar pipi dg kalimat saktinya “siiiappaaa yang akan membahagiakan orang tua andaa?? anak-anak anda???” aarrghh.. si Leader MLM dengan setelan jas ala pak Dirut itu menggugah emosi saya. dan yak! dia berhasil menggiring saya ke ATM, membayar uang registrasi dan membawa oleh-oleh ‘beberapa’ biji produk yg dijajakan.

jika saya pake nalar, maka seharusnya sy bisa bilang bahwa apa yg saya bawa pulang dg barter 2jt itu ya bener-bener overpriced. tapi demii “time freedom” saya relllaaa….

yang mana baru disadari beberapa bulan setelahnya bahwa time freedom itu hanyalah ilusi..

*kapokmu kapann*

 

Aside
0

Kartini

Mungkin bagi kami, ibu muda yang memiliki anak di usia TK, akan sangat familiar dengan perayaan hari Kartini, yaitu bagaimana rempongnya menyiapkan lomba Kartinian, biasanya diisi dengan fashion show baju adat atau baju profesi atau suka-suka gurunya saja mau pakai tema apa.

Apa benar hal itu yang diimpikan Kartini muda pada saat itu? hiruk pikuk kerempongan ini yang ujungnya hanya sebuah piala bagi pemenangnya?

Mungkin jika kita sedikit meliarkan imajinasi kita dan berempati menjadi sosok Kartini muda, sudah pasti beliau akan sedih. “bukan… bukan begitu maksudku!” begitu kira-kira status facebooknya seandainya beliau sudah mengenal sosmed.

Mari kita flashback ke jaman satu abad yang lalu, belum ada jaringan internet apalagi layanan Over The Top (OTT) yang memungkinkan kita komunikasireal time dengan kerabat di seluruh dunia, tapi jaman itu beliau telah berkorespondensi dengan Mrs. Abandonen di Belanda nun jauh disana, dan hebatnya, pemikiran beliau ini begitu modern untuk jamannya. Adalah emansipasi, kesetaraan pendidikan kaum wanita dan kodrat wanita.

Jika kita analogikan ke jaman sekarang, mungkin sosok Kartini adalah seorang wanita dengan pergaulan sangat luas tak terbatas, bahkan mungkin dengan makhluk Mars sekalipun dan membagikan nilai-nilai positif yang bisa membangun bangsanya.

Emansipasi dan kesetaraan pendidikan bagi kaum hawa tanpa melupakan kodrat wanita adalah oleh-oleh Kartini, yang tanpa ia bayangkan, efeknya dapat kita rasakan hingga saat ini, tentu saja kita tidak sopan jika hanya sibuk dengan seremonialnya saja, namun sudah saatnya wanita bisa berdiri berkarya untuk negrinya tanpa melupakan kodratnya sebagai seorang wanita, baik sebagai anak, istri maupun ibu.

Selamat Ulang Tahun, Ibu Kartini!

 

Aside
0

I have 3 years worked in NGO since I was in college as a project officer/outreach worker/case manager on HIV/AIDS prevention program in injecting drug users and work place. From those experiences, I have gain my instinct, report and writing skills and also my sharp correction of the criminal justice system in Indonesia which was discriminative to drug users. I also learn how a criminal career, drug dealer, was learned and that was the subject of my thesis on my undergraduate degree in Criminology. This HIV/AIDS issue and facts was surprised me, I faced so many case where people was transmitted or even a baby who transmitted by his father. It makes me stronger and sharper to catch the humanity issues around me.

The things that I appreciated my self was the brave and humble motion that I had so injecting drug users, drug dealers and the gang was accept me as their buddies, so that my outreach work was went smooth and effective.

In work place, I also succeed to approach the big five oil company in Indonesia to conduct the HIV Prevention programs.

My experience at Telco company was open my wider mind how the system managed the company, such as ISO Quality and Environmental. How company could participate to reduce the global warming by implementing Environmental Management System and how GCG is only nice on paper but not easy to implement.

The last two experiences in multinational company was strengthen my ability to collaborate with other affiliate worldwide, coordinate and manage the works with the multicultural team member in a tight schedule and in prudence survey and inspection reports. Although my position was sales and marketing, I also did the operation job like reporting, managing existing works and coordinate between the clients and the worker beside deal and negotiate with the clients. I really enjoy and feel blessed with my various career, thus, I have a huge experience to overcome the next challenge in my career.

10

Ibu bekerja tanpa pembantu #2 – membawa anak ke kantor-

tadinya saya gak pernah nyangka kalo ternyata saya pandai memasak! yap! PANDAI. 

akhir2 ini emg pekerjaan rumah tangga kami lakukan sendiri, dan saya sebagai ibu/istri memiliki tgg jawab lebih dalam hal logistik rumah kami, dan weekend adalah saat yg tepat untuk mengeksplore kemampuanku memasak. Sabtu ini saya memasak sayur lodeh, sambal pete (dikit) goreng ayam dan tempe dan lengkap dg bunga kecombrang rebus (ini sih pasti cm saya aja yg makan) dan hasilnya nilai 85 dr masandi. Hari minggunya saya bikin soto ayam dan hasilnyaa??? nilai 100! suamiku nambah, anakku telap telep makannya! ya Allah itu pricelesss!!! tentu saja hal ihwal resep saya tanya ke ibuku dan kakakku (mb niken) yg emg ibu kedua bagiku…. 

selain memasak, ternyata sy mahir juga mencuci baju (yaiyyalaah cm modal rinso n mencet doanngg) dan ternyata temennya mencuci a.k.a menyetrika bukanlah kegiatan yg membosankan, walopunnn masyaallah…. satu kegiatan ini emg saya angkat tangan deh… beberapa temen menyarankan utk dimasukkan ke londry kiloan aja, awalnya iya sih, tp lama2 ga puas dg pewanginya yg bukan selera saya, hasilnya yg ga se licin yg saya bayangkan, jadilah sy bener2 kerjakan semuanya SENDIRI. 

pararegel pisan emg rasanya badan ini, tp itu sy anggep sbg olah raga aja dan malah jd olah jiwa dg ditambah dengerin playlist fav, malem2 stlh semuanya terlelap, somehow kegiatan menyetrika ini jd kegiatan me-time yg cukup menyenangkan dan menenangkan…. (sesederhana itu ternyata!)

dan itulah ritme yg masih kami pilih saat ini… kemarin sempet minta tlg tetangga utk mencarikan tenaga kerja yg mau kerja harian (pulang pergi) dan sampe skg blm ada kabarnya.. takapa, toh saya menikmatinya….  tp permasalahan utamanya adalah pengasuhan anak. 

ternyata masRezel ga tahan lama di daycare WBS spt postingan sebelumnya, dia akan sangat alergi ketika mendengar kata “daycare” atau “sekolah”. akhirnya minggu kemarin, full seminggu saya membawanya ke kantor. untungnya boss saya mengijinkan, dan sayapun membuat perturan tegas ke masrezel, bahwa kalau ikut mami ke kantor tidak boleh rewel, nangis dan berisik. dan aturan itu bener2 ia ikuti. 

setiap kali sampai di lantai Penthouse (kantorku), ia akan berbisik ketika mengutarakan sesuatu… dan duduk manis di depanku… (tp itu hanya berlaku 1 jam pertama) selebihnya, dia berkelana ke meja2 temen yang lain, ngobrol dan jadi mainan anak2 kantor… hehehe….

Image

 

sebenernya kasihan juga sih karna pasti cape, tp stiap pagi daia akan langsung membrondong aku dg pertanyaan “mami kemana hari ini? trus mas ikut kan? dll dll” 

Sebenernya membawa anak ke kantor tdk berpengaruh dg produktifitasku bekerja, malah lebih semangat,, sayang ya,, di negeri ini membawa anak ke kantor bukanlah suatu hal yg normal..

saya malah jadi berandai2 bahwa sebenernya ga smua karyawan harus bekerja di kantor, bagi pekerjaan macem saya, sy rasa cukup di kantor  2x seminggu dan selebihnya kita bisa working from home, yg penting kualitas bukan instead of kuantitas?? mungkin 5-10 thn yad bakal ada peraturan begini yaah buat para working mom… (marikita amiinin bareng2). 

Walopun dia happy saya ajak ke kantor, tp saya tahu, baik rezel

Image

 maupun emaknya ini capeknya dobel2,, dari mengurus rumah seadanya, memikirkan masalah makanan keluarga, nyetir dr rmh-kantor, dan bekerja di kantor dg membawa anak…fyuuh,,, deep inside my heart sy ga yakin ini ritme terbaik kami, dan pada akhrinya pun, saya nyerah…….. minggu ini masrezel ke

mbali ke pesantren eyang…. hehehe… bersyukur saya memiliki mertua yg available kapanpun

 kalo sy butuh mereka utk menitipkan anak kami…. alhamdulillah… wlpun kalo lg kangen banget, sy nekad nyetir dr pulang kantor ke cilegon dan besokannya jam 5 pagi ud jalan lagi dr saana menuju ke kantor..  dan lagi2 saya mendapati me-time saya yg sangat berkualitas adalah justru saat sy menyetir sendirian antara Jakarta-CIlegon di sore hari dan Cilegon-Jakarta di pagi2 buta… entah sy yg sedang mellow atau tidak, tp banyak hal2 positif, happy feeling, great feeling menyelimuti saya, saat sy melihat awan luas membentang ketika sy melewati tol tangerang-merak…. banyak nilai2 diri sy yg muncul lagi setelah sekian lama mati suri… entah percikan semangat dan syukur yg tak terkira muncul semua.. walopun kl di dunia nyata, beberapa bulan ini banyak hal yg terjadi dari masalah keluarga besar, maupun masalah pekerjaan… tp somehow, hal2 negatif yg terjadi bisa saya tanggapi dan resapi sbg sbuah pembelajaran yg positif…. (nglantuurrdehhh)

eniwe,,,, minggu ini bakal jd minggu terakhir sy berkantor di arkadia lantai penthouse.. secara lokasi, jujur ini adalah kantor ternyaman dan ter enak yg pernah sy tinggali, kami berada di lantai palign atas dg bonus balkon yg bisa melihat langit, dan citi view… dan ini bakal sy tinggallin… this will be my last week… sedih.. hiks…. dan kantor kami akan pindah ke daerah permata hijau, at least hingga desember tahun ini… lho kok??

yup.. Januari 2014 sy officially free…. sy blm memutuskan utk bergabung di company manapun… utk saat ini, saya ingin mengasuh anakku dg tanganku sendiri, mencuci baju suamiku dg tanganku sendiri (dan mesin tentunya), memasak sarapan dan makan malam untuknya dg hasil karyaku sendiri……… dan itu entah apa sy sebutnya, tp hati ini bener2 FULL! entah mungkin tahun depan ada keinginan utk kembali ke kantor lg bisa juga… beberapa temen dan mantan boss menghubungi sy utk join bareng lg… nah, kl udh gini sih tinggal gmn aku milih hidupku ke depan mau ngapain.. Alhamdulillah, aku diberi kebebasan dan kesempatan yg luas utk mengekslpore diriku sendiri…. entah menjadi full tme mom… atau mompreuners… atau run  my own company…. the decision is in my hand….. Bismillah!

yeayyyy!!

 

Image

 

Aside
4

Sebagai keluarga besar, kami memiliki grup BBM bernama Bani Kasim (nama alm Kakek kami)  yg isinya saya, kaka2, om dan para sepupu. terlontarlah tentang status halal resto Solaria yg diposting oleh salah satu sepupu kami.

Komentar pun langsung berguliran yang malah ujung2nya kita punya ide untuk mendirikan sebuah restoran di kampung halaman kami di daerah Catgawen, Parakan Temanggung.

Domisili kami (saya dan para sepupu) memang berjauhan, ada yg di Jakarta, Jogja, Semarang dan ada juga yg tinggal di Parakan dengan profesi yang beragam pula. Berbagai ide bisnis pun bergulir. salah satu sepupu saya, yg usianya 3 tahun di bawah saya sudah berani pulang kampung dan membuka usaha cuci mobil yang alhamdulillahnya berjalan cukup lancar di tahun pertamanya ini.

nah, balik ke diskusi di BBM Group Bani Kasim, mas Bram, penggagas ide inipun membuat kita semangat untuk merealisasikan cita2 ini. cita2 dimana kita bisa berbisnis bersama keluarga besar. lha kalo Bakrie Group saja bisa mosok Bani Kasim ga bisa sih,, hehehee… plus, ide ini pun di amini oleh Pak Dar, Om kami (anak terakhir dr alm.Mbah Kasim) yang kebetulan sesepuh di grup BBM ini. dan beliaupun ON Fire utk merealisasikan ini…

kira2 begini cita2nya.. ada restoran bernuansa alam, dg menu orisinal dan ngangenin…. angan2 saya pun melayang, kira2 begini kali ya kalo direalisasikan…

atau seperti ini

hooww cozzyyyyy,.

namanya  juga mimpi ya booo.. boleh doongg….. siapa tau bisa terwujud… amiinn…

powered by Bismillaah… as always…

#foto2 diambil dari Google image.. silahkan klik foto utk langsung ke sumbernya 🙂

5

ibu bekerja tanpa pembantu #1 – daycare di BSD

sudah rahasia umum keknya kalo abis lebaran itu penyakti tahunan ibu2 rempong pekerja adalahaa….. yupp! masalah per-embak-an!

setelah setahun bekerja di rumah, mengasuh mas rezel dan mengurus rumah, akhirnya mbak Sumi tidak  balik lagi ke kami.. dg sedikit drama yg melelahkan memang, yg awalnya bilang mau balik eee pas hari H hanya singkat via sms yg bilang masih mau di kampung jd aku harus cari org lain. baiklah, kamipun sibuk mencari kesana sini, dan dapetlah orang Tegal namanya Mbak Ah. sementara waktu mbak Sumi pulkam kemarin, mas rezel aku titipin ke rumah eyangnya di Cilegon.

kehadiran mba Ah tidak terlalu signifikan bagi kami, lha wong mas rezelnya aja masi di cilegon kok. pas,,, hari Jumat saya langsungan setelah meeting dg klien di daerah kuningan langsung deh ngacir ke Cilegon (saking kangennya LDR an sm mas rezel) dan mbak Ah pun kami tinggal di rumah sendirian.

belum juga ketemu Rezel… ee ujug2 ada sms dr si mbak baru ini yg bilang kl gak betah… lhahhh! anehh deh,, baiklah,, diterima lagi pil pahitnya.. dan aku coba sms lagi ke si mbak sumi, kali2 aja dia masi mau balik. dan yup! dia mau balik dg tambahan gaji. okelahh kami terima. dan ternyata… cetarrr lg smsnya…. pas hari H dimana harusnya dia hadir, dia sms (in d middle of meeting with my big fish!!!) blg kalo gajadi dateng krn ada yg nawarin dg harga 100rb lebih dr tawaran yg sudah saling kami sepakati.. damn!!! masalah bedinde  begini nih yg bikin makan ati.  yoweslah, sakkarepmu wae.. males, lo gw END!

akhirnya, dg pertimbangan kesana kemari, mengingat dan menimbang banyak hal, kamipun menjemput kembali mas Rezel yg udah hampir sebulan tinggal di Cilegon bersama eyangnya. disana dia seneng, krn banyak temen dan banyak yg ngasuh.. tp kok ya anak-ortu jauh2an begini….. ketemu pas wiken aja.. disini sayanya yg ga bisa.. akhrnya kami memutuskan utk memasukkan mas Rezel ke daycare..

awalnya kami mengincar TK&Daycare Khalifah di komp. Nusa Loka, sudah brosing sana sini dan akhirnya sy telp daycare tsb… sy suka dg programnya yg bisa sekalian Plegrup.. dg harga 1jt/bulan dan pendaftaran 4,5 jt (bs dicicil 4x) ud bisa masuk daycare plus playgroup dg pendidikan agama dasar dan kegiatan belajar mengajar utk anak usia 3 thn.. menarik nih.. cuma minusnya adlh makan ga disediain, jd ortu hrs cari ketring per paket 10rb. jam oprs jg terbatas dr jam 7pg-6 sore aja.

hari minggu kmrn kami pun survey kesana, pas nyampe lokasi, mas Rezel sama sekali tidak tertarik.. bahkan dia merengek ingin pulang saja dan bilang gak mau sekolah disitu! pulang aja!! *emakbapaknya binguunggg* krn gatau dimana lg daycare deket rumah…

akhirnya  pas kita lewat rs Bunda dalima, kami mampir dan bener, disitu ada daycarenya… terletak di lt.3 dr bangunan  RS dan terpisah (ruangan tersendiri) dari ruang perawatan pasien. hari itu daycare tutup krn hari Minggu, namun kami bisa melihat dari luar krn pintunya kaca. mas Rezel langsung antusias dg daycare ini… dia blg “mas mauu sekola disini!! nanti mas yg pencet lift sama bel nya” ahhaaa… nemu lah kita solusinya…

Pas hari Seninnya, which is hari pertama dia masuk daycare mukanya riang gembira… nah, masalah terjadi pas kita masuk (stlh pendaftaran dan pembayaran isi2 form dll) kamipun masuk dan brtemu miss Lala… nahh drama dimulai… tangan kecilnya gak mau lepas dari jariku. ia bilang mau pulang aja… #hadeeehh mas,,, emak mu ini udah bayar,, jgn nangis doong hehehe# akhrnya miss lala dg sigap  mengajak rezel utk main balok dan thimik2 diem2 aku meninggalkannya… aku tau cara ini kurang bagus utk anak, harusnya saya pamit dll.. tp saya tau anakku… dg aku pamit justru dia akan lebih pecahhhhhh tangisannya…

dan benar saja,, ketika dia menyadari bahwa emaknya ini ilang,, pecah tangisannya,,, tp gak seheboh kl dia kami tinggal d rmh eyangnya.. diem2 aku melihat dia dr luar daycare dan ternyata cm sebentar.. sorenya pas dijemput, dia sudah terlelap.. kata miss nya, seharian ini rezel sudah bermain dg temen2 barunya dan sudah mulai mingle bareng…

paginya, doi antusias sekali menceritakan hari pertamanya di daycare,, dia meyakinkanku dg blg “mas nangisnya cm sebental aja kok mami…” baiklahh… hari pertama lewat, hari ke2 masih dg tangisan pagi, tp sorenya pas aku jemput dia lari ceria sekaliiiiiiiiiiii,,,, pricelesss…….. nah hari ini hari ketiga dan masi ada tangisan paginya,, tp semoga ini hanya di minggu pertama saja… krn utk saat ini kami yakin bahwa inilah yg terbaik…

pekerjaan rumah aku dan masandi yg kerjain bareng2, makan malem aku masak yg simple2 aja sebentar stlh menjemput anak di daycare.. sarapan jg aku masak yg simple.. alhamdulillah ritme ini masi kami jalani dan ini minggu pertama kami hidup tanpa pembantu setelah 3 thn jadi orang tua… privasi kami jg terjaga krn tidk ada orang lain di rumah.

lebih capek sii memangm tp somehow saya enjoy ketika sy masak or beberes rumah yg biasanya itu adlh tugas si embak..

entah sampe brp lama kami tahan dg ritme ini, wl ada temen eyke yg bilang… ‘lo liattt dehh di mgg ke2 ” sembari kirim emoticon nyengirrr d bbmnya… hahah,,okee.. we’ll see…. itung2 ini latihan kalo entah suatu hr nanti kita ditugaskan ke luar negri dan harus hidup mandiri spt ini, jd ud ga kaget lagi deh…

baiklah,,, wish us luck! 🙂

#ohya,,kl yg ingin tau ttg daycare di Bunda dalima, bs telp ke 021 53154447. tarif perbulan 1,4 (ud incl makan 3x) biaya pendaftaran formulir 50rb. tersedia paket mingguan 450rb atau harian 100rb. overtime setelah jam 6.15 terkena biaya 15rb/jam. jmlh anak sktr 15 (12 balita dan 3 bayi kl gasalah).

PS. smua foto dicomot dr googleimage. bundadalimagroup.com. dan gbr TK Khalifahnhnya bukanlah TK Khalifah yg di Nusa loka tp kurleb begitulah kondisinya.

Aside
2

Saya akan memulainya dari masa kecilku, meskipun sudah beberapa kali dituliskan dan semoga tidak jadi cerita usang yang membosankan…

Dibesarkan oleh seorang  single mother with seven childrens,  saya tumbuh berkembang dengan asuhan kadang budhe kadang tetangga kadang pengasuh merangkap asisten rumah tangga dan orang lain selain ibuku. Otomatis, dengan status beliau  sebagai  orang tua tunggal bagi kami, memaksanya untuk mencari  rejekiNya di luar rumah (jaman dulu belum ada internet juga kan? So definitely beliau tdk bisa membuka toko online).

Dari profesi sebagai penjual kue gendong keliling, guru SMP, guru privat, bendahara/accounting di perusahaan adiknya, maupun penjual pakaian di pasar dan perkantoran, ibuku nyaris menghabiskan 60% waktunya diluar rumah.

Apakah saya menangis? Ya!! Awalnya! Tapi saya pun menjadi anak yg tidak cengeng dan manja. Rini kecil waktu itu bisa melihat kondisi walaupun selebihnya tidak bisa. Apabila memang sedang keluar manjanya, ya saya akan meraung keras2 untuk  mencari perhatian ibuku, membuatnya berat utk melangkah keluar rumah meninggalkanku , si anak ragil ini, yang ujungnya adalah ibuku membawa serta rini  kecil ini ke SMP tempat ia mengajar, yang tak jarang juga aku  berulah di tempat itu.

Apakah itu dianggap sebagai protes karena ibuku bekerja diluar rumah ? tidak juga… setelah saya telaah akhir2 ini, saya tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang dari ibuku, meskipun beliau bekerja di luar rumah.

Saya tidak keberatan untuk memakan masakan Mbah Minah (pengasuhku waktu itu) bukannya masakan bikinan tangan ibuku. Saya tidak protes ketika ibuku baru pulang menjelang maghrib, setelah saya rapih dan siap ke masjid. Apakah saya merasa pendidikan agamaku kurang? Tidak juga, tanpa ibuku ada disisiku 24jam pun, kesadaran dan nilai-nilai yg ditanamkan ibuku tetap aku jaga.

Justru disitu ibuku mengajarkan –secaratidaklangsung- bahwa, dengan atau tanpa ibuku berada di sisiku, sholat wajib, mengaji dan baca yasin ke makam ayahku setiap malam jumat sudah m

enjadi hal yang wajib bagiku, jika aku merupakan anak solehah, sesuai amanah ayahku saat menitipkan ketujuh anaknya kepada ibuku. Dan aku memilih untuk balajar menjadi anak yang solehah waktu itu.

Bahwa pelaksanaan perintah agama, mengamalkan  nilai hidup dan budaya tidaklah harus dilakukan hanya pada saat ada wujud ibuku disampingku.

Pernah bandel?? Pasti! Siapa disini yang seumur hidupnya tidak pernah melakukan kesalahan??  Kita manusia biasa juga kan? Pernah meninggalkan sholat? Atau pura-pura sudah sholat?? Pernah!! Namun bagiku, itu proses pembelajaran bagi si bocah yang baru beranjak gede waktu itu.

Mimpi dan cita-cita besar ibuku, untuk memiliki anak2 yang soleh dan kelak bermanfaat bagi agama dan bangsanyalah yang menjadi bahan bakar ibuku untuk terus berusaha, walau apapun yang terjadi. Kadang sindiran dan kata sinis terlontar dari orang lain baik mengenai keluargaku atau statusnya yang janda, tidak sedikitpun mematahkan semangatnya. Semata-mata demi memberikan pendidikan yang cukup bagi ketujuh anaknya.

Seiring berjalannya waktu, kamipun beranjak remaja dan pelan-pelan menjadi manusia dewasa. Beliau rela kami “tinggalkan” demi kepentingan menuntut ilmu. Tidak pernah ada batasan lokasi maupun siapapun guru yang kami pilih demi untuk pendidikan. Beliau membebaskan kami memilih sekolah yang pas bagi kami. Dari ketujuh anaknya, lima dari kami telah meninggalkan kampung halaman sejak lulus SMP, termasuk diriku, yang memilih untuk melanjutkan studi di Jogja.

Dari beliau, saya mengambil pelajaran bahwa anak bukanlah properti milik kita yang harus di kekepin terus, mereka individu yang bebas menentukan masa depannya, tanggungjawabnya sebagai orang tua adalah membekali kami dengan ilmu hidup, dan tentu saja dana, meskipun tidak banyak yang kami dapat namun kami berusaha untuk cukup dan mencukup-cukupkan. Tapi justru disitulah serunya!

jalan2 sama embah

Kami tumbuh tidak bergelimang harta dan segala fasilitas seperti teman kami yang lain, tapi sekarang justru kami bersyukur dg keterbatasan kami waktu itu, karena jujur, kami takut untuk menjadi manusia yang tidak amanah apabila diberi kelebihan.

Saya hijrah ke Jakarta begitu lulus SMA dan masuk ke universitas negeri di Depok (bukan Jakarta) dengan jurusan yang memang saya sukai, Kriminologi! Mungkin ada yang beranggapan bahwa ideku gila, hidup di jogja –yg katanya murah-  saja sudah megap-megap rasanya, lah ini saya nantangin diri untuk hidup dan tumbuh di Jakarta! Tapi entah itu intuisi atau mimpi, saya melihat cahaya baru di kota yang katanya sumpek sesak ini.  Tapi justru disinilah saya menemukan ritme perjuangan yang lebih dahsyat, dengan bekal beberapa ribu rupiah untuk bekal hidup sebulan disini merupakan tantangan  yang menarik. Dikota ini juga saya melihat kesempatan yang jauuh lebih luas untuk berkembang dan mengeksplor kemampuan kita, bahkan memecahkan batasan kesanggupan kita, dan yang terpenting di kota ini jugalah saya menemukan banyak sahabat dan teman sejati.

Disini, saya lebih jauh meninggalkan ibuku! Otomatis lebih jarang pulang dengan kondisi ekonomiku saat itu, apakah ibuku merasa “ditinggalkan?” ataukah aku meninggalkan ibuku lebih jauh ini karena dulu waktu kecil saya merasa “ditinggalkan” juga oleh ibuku yang bekerja di luar rumah?

Jawabku adalah tidak! Sama sekali kami tidak pernah merasa atau bahkan sempat berpikir tentang hal tinggal meninggalkan ini. Kami murni berniat kemanapun kaki ini melangkah, adalah untuk mencari Ridho Nya, selama ibu meridhoi, disitulah ridho Allah, dan saya yakin akan hal itu.

Masa kuliah yang memakan waktu hampir lima tahunpun belum cukup lama bagiku terpanggil untuk segera “pulang” ke kampung halaman. Apakah ini –lagi-lagi- termasuk aksi balas dendamku kepada ibuku yang meninggalkanku saat aku kecil untuk bekerja di luar rumah? Not at all! Dan bahkan menurutku tidak ada korelasinya sama sekali.  Di jaman sekarang  yang lebih dinamis, terlepas dari pengaruh budaya barat atau tidak, dajjal atau bukan, namun Jakarta-Temanggung itu hanyalah 3 jam dengan pesawat dan 9 jam jalan darat.  Bagi ibuku dan kami, kualitas komunikasi dan relasilah yang terpenting, walaupun beberapa kali mengalami krisis kualitas komunikasi dan relasi dengannya, namun kami  menganggapnya sebagai hal yang lumrah, karena keluarga itu merupakan kumpulan emosi bagi para anggotanya, ya kangen, cinta, kadang sebel kadang benci, berantem, baikan, saling semangat menyemangati maupun sibuk masing-masing adalah bumbunya.

“kepakkan sayapmu kemanapun kamu mau, tapi jangan pernah lupa untuk selalu berpijak ke tanah” kira-kira seperti itulah  motto ibuku, kemanapun kami pergi  dan mencari hidup, tetaplah ingat asal usul dan nilai dasar hidup. Dan sekarang, kami bertujuhpun sudah berganti status menyamai ibu, yaitu sebagai orang tua.

Pilihan yang bebas dengan segala konsekuensinya bergulir didepan mata saya,  mau single atau menikah,  berkarir atau usaha, memiliki anak atau tidak, dan sayapun  memilih untuk menjadi istri dan ibu bekerja. Bukan untuk gaya-gayaan atau mengejar karir, bagiku karir hanyalah sarana, selebihnya adalah pengembangan diri dan tentu saja mencari nafkah. Lho, nafkah kan kewajiban suami? Betul sekali! Tapi tidak haram juga apabila seorang istripun ikut membantu suami mencari rejeki.

Teganya kamu ninggalin anak yang masih bayi! Ya,,, dan aku akan lebih tega untuk tetap bersamanya namun dalam kondisi yang “tidak aman secara finansial maupun kesejahteraan”,  saya yakin rejeki itu Allah yang atur, ya mungkin saat ini adalah giliranku untuk mencari rejeki diluar rumah  sama halnya dengan ibuku waktu aku kecil bedanya saat ini posisiku hanyalah pemain pendukung dalam hal mencari nafkah bersama dengan suami.

the three of us

Lho, tp kan suamimu juga bekerja? Betul! Tapi kami punya mimpi, bahwa apa yang kami lakukan tidaklah semata-mata untuk kesejahteraan diri sendiri, namun ada hak orang lain yang Allah berikan melalui keringat kerja keras kami.  Tidak perlu diisebutkan juga kemana kami menyalurkan sebagian rejeki kami selama ini,  yang paling penting adalah sepenggalan ayat yang menyebutkan bahwa “janganlah kami meninggalkan anak-anak yang  lemah di belakangmu” Nah! Inilah intinya! Saya tidak mau kelak anak-anak kami hidup dalam kekurangan finansial yang memungkinkan untuk beberapa kesempatan berkembang lebih  baik menjadi terhambat.  Tidak terlalu muluk-muluk, kami bermimpi kelak, anak-anak kami bisa menjadi apapun yang mereka mau  dan kami siap untuk itu. Tidak hanya semata mengejar gaji sekian atau bisa beli ini itu, namun lebih ke pursue our dreams.. yang mana dreams itu tidak bisa kami raih jika kami tidak berusaha “lebih” keras.

Pernah seorang teman berpendapat bahwa saya ini terlalu mengejar karir. lho, justru saya yang ngerasa dikejar kok, bahkan diberi kesempatan yang banyak untuk berkarir. Jujur, selama ini saya tidak pernah melamar pekerjaa namun selalu ada seorang  sahabat, relasi maupun teman baru yang menawarinya. Kemudian, jika memang cocok dengan naluri dan ritmeku, maka saya terima dan jalani.

Kadang ada juga pendapat yang “sedikit” menyudutkan peran ibu bekerja, apalagi apabila disesuaikan dengan ajaran agama, dimana seorang wanita wajiblah mengasuh anaknya di rumah dengan tangannya sendiri, atau dengan penggalan fatwa bahwa seorang wanita haram hukumnya untuk bekerja di luar rumah, dengan menitipkan anak ke pembantu atau tempat penitipan anak maka nantinya ketika kita tua, anak akan menitipkan kita ke panti jompo .

Waduh! Sesimple itukah rumusannya? Jika memang ibu haram bekerja di luar rumah dengan anggapan bahwa ia meninggalkan anaknya dan menitipkannya ke orang lain berarti seorang anak juga haram dong meninggalkan orang tuanya untuk mengenyam pendidikan diluar rumah? saya rasa akan lebih fair jika rumusnya begitu, bukan bermaksud untuk menawar,tapi adakah data empiris yang menunjukkan korelasi itu? Bahwa kebanyakan manula di panti jompo adalah orang yang dahulunya meninggalkan anak-anak mereka demi bekerja diluar rumah??

Jika ditanya saya mau apa tidak untuk menjadi ibu rumah tangga? Ya saya mau bangett!! Salut saya berlipat-lipat bagi sahabat yang mendedikasikan waktunya 100% untuk mengasuh anak mereka sendiri dirumah apalagi jika dibarengi dengan kualitas waktu yang 100% juga, bukan hanya kuantitas. Namun balik lagi, setiap manusia punya mimpi, tujuan hidup dan nilai yang mereka yakini masing-masing. Untuk saat ini, saya memilih untuk menjalani kedua peran ini, yaitu ibu rumah tangga, istri dan ibu bekerja. Karena toh, balik ke ajaran ibuku, bahwa nilai hidup, peran ibu, perintah agama yang diajarkan ke anak, bukanlah suatu hal yang harus dijalankan hanya jika wujud ibu itu ada di samping kita 24 jam karena itu bukanlah jaminan.

Mungkin saya adalah korban keganasan krisis ekonomi dengan tingkat inflasi yang tinggi. Saya yakin sepuluh tahun yang lalu, kebutuhan hidup tidaklah setinggi sekarang. Setiap orang punya strategi masing-masing untuk mengatur cashflow keluarga mereka. Ada yang dengan 100% tanggungjawab finansial ada di pundak suami, namun ada juga keluarga yang membaginya berdua. Namun tetap saja, sorot lampunya ada di istri/ibu, yaitu peran mereka menjadi ibulah yang dipertanyakan.

Tega ninggalin anak, gila kerja, tidak mensyukuri pendapatan suami, tidak merasa cukup atau anggapan-anggapan lain yang mungkin timbul dari orang lain, seringkali terbesit di pikiranku. Yang mereka tidak tahu adalah bagaimana saya jumpalitan mengatur waktuku, untuk anak, suami, pekerjaan dan terakhir adalah waktu untuk diriku sendiri.  Saya mengawali hari sekitar jam 3-4 pagi, yang harus selalu langsung ON dengan ritme anakku yang sudah 100% charged pada jam segitu. Saya pikir, kapan lagi waktu berkualitasku dengan anak kalau bukan jam 4 pagi hingga aku berangkat kerja sekitar jam 6.30. sebelum berangkatpun saya berusaha sekuat tenaga untuk tetap menyuapi anakku, atau sekedar menyiapkan teh hangat, sarapan dan bekal untuk suamiku.

Cukupkah hanya 2,5 jam untuk anak? Tidak, namun dengan hanya segitunyalah waktu pagiku dengan anak, ya itu yang saya manfaatkan 100% walaupun tertatih dan mengantuk sangat, karena setiap 1-2 jam sebelumnya, anakku masih bangun untuk minta susu. Bagaimana dengan waktu bersama suami? Itupun ada slotnya sendiri, yaitu jam pulang kantor, atau sekitar jam 7 malem – 10 malam. Hanya 3 jam? Ya! Dan itupun juga yang kami manfaatkan dengan sungguh-sungguh. Dari mengobrol tentang sehari-hari maupun mimpi dan masa depan kami atau hanya leha-leha bersantai sambil nonton tv.

me and me sonshine

Dengan ritme yang sudah kami miliki ini, ya itulah hidup kami, ya itu lah ritme kami, mungkin akan berbeda dengan keluarga lainnya. Apakah dengan ritme seperti itu anakku merasa terabaikan? Saya rasa tidak, karena toh setiap pagi dan siang atau sore sebelum saya pulang selalu menyempatkan diri menelepon anakku di rumah dan selalu keep in touch dengan suami di kantor. Jadi disini, bukanlah eksistensi wujud fisiklah yang kami jalani, melainkan kontak batin, komunikasi efektif dan saling menghargai satu sama lain. Dan yang pasti ya harus siap dengan segala konsekuensinya. Capek pegal kadang menyetir sambil bobo (eh, ini sih jgn ditiru) maupun mencuri waktu tidur di toilet pernah saya lakukan. Tapi alhamdulillahnya, Allah selalu memberiku jalan terbaik dengan memberikan saya pintu rejeki dari pekerjaan yang bisa saya atur waktunya. Intiya, jadi wanita masa kini memang harus pintar-pintar memilih peran dan mengatur waktu.

Keterbatasan waktu ini justru yang saya jadikan kelebihan. Lhoh, keterbatasan kok kelebihan?? Iya dong, karena dengan tahu bahwa waktu kita terbatas inilah yang membuat kita menghargai satu sama lain, menghargai setiap  kesempatan yang ada untuk menjali harmoni keluarga kami. Sama halnya dengan kondisi keuangan ketika saya kecil, dengan keterbatasan-keterbatasan itulah justru kami berkembang jauh lebih baik dan lebih santun, yang mungkin tidak akan seperti ini hasilnya apabila waktu itu  kami bergelimang harta.  Saat inipun, mungkin jika kami atau saya justru 100% dirumah, belum tentu bisa menghargai waktuku bersama anak sama halnya dengan saya menghargai waktu yang hanya 2,5 jam saja baginya.  Baiklah, saya mengakui, kadang-kadang saya kesiangan ke kantor karena ada anak kecil yang masih menempel dan mengunci tangannya di pundakku, atau ketika saya sudah siap berangkat  ada anak pintar yang sengaja mengacak-acak jilbabku karena protes atas kepergianku ke kantor ketika manjanya kumat, tapi apapun tantangannya, saya menikmati itu. Menikmati dan mensyukuri setiap detik moment dengan keluarga.

Bagi semua ibu, baik ibu rumah tangga maupun ibu bekerja, apapun profesi kita, kita adalah seorang ibu. Tidak usah dikotak-kotakkan dengan stempel bekerja dan rumah tangga ataupun stempel haram keluar rumah atau wajib didalam rumah yang belum tentu bisa 100% diikuti oleh setiap ibu . Toh kita sama-sama berusaha untuk menjadi ibu yang terbaik untuk anak-anak kita. Dan yang terpenting adalah menciptakan kualitas hubungan yang sehat dan pintar antara kita-anak-suami sebagai sebuah keluarga dan tim yang hebat.

0

cerita si Sulthan.. belajar hidup dari manapun..

Pagi itu, seperti biasa aku naik busway menuju kantorku di kuningan. tumben-tumbennya aku dapat tempat duduk di pagi hari yang penuh sesak itu.. Seramai antrian sembako gratis, bejubel orang yang buru-buru menuju kekantornya, untung diriku sudah mahir dalam mencari celah diantara tubuh-tubuh penumpang lain.. jadi pagi itu aku bisa meneruskan rasa kantukku di busway..

Antara sadar dan tidak,  beberapa menit berlalu,  sampailah kami sebusway di halte Mampang, disela-sela setengah mimpiku,  samar-samar kudengar suara bocah laki-laki, lalu bocah kecil itu berdiri tepat didepanku, otomotasi secara naluri sayapun terbangun dan berdiri mempersilahkan bocah tadi untuk duduk. Aku pikir, bocah itu bersama  seorang ibu yang berdiri di depanku, ternyata dia bersama seorang pria usia 40tahunan yang dipanggil “ayah’ olehnya,,setelah itu akupun berusaha mengumpulkan nyawa untuk  berdiri sampai tepat di depan halte kuningan madya.

Hari itu, tidak ada yang spesial, jam demi jam kulalui hari seprti biasa, kecuali sakit gigiku yang luar biasa hingga saya menangis kesakitan.. Tak berasa jam menunjukkan pukul 5.30  sore, dan segera kubergegas untuk melangkah pulang menuju ke klinik laboratorium Pramita, yang terletak di Mampang untuk merontgent gigiku.  aku duduk termangu  menunggu hasil rontgent di ruang tunggu.. tiba-tiba ada seorang pria 40tahunan yang membuyarkan lamunanku “eh mba,,, mba yang tadi dibusway kan???” saya pun bingung tidak ingat apapun tentang laki-laki itu, tiba-tiba muncul bocah tadi “”ehh,, tante yang tadi pagi di busway kan??” aku baru inget kalo tadi pagi aku bertemu mereka.. ternyata bocah itu sedang ikut ayahnya bekerja sebagai teknisi di Lab Pramita..  setelah percakapan singkat itu, laki-laki itupun menghilang dari ruang tunggu, namun bocah berumur 5 tahun itu masih memandangku diruang tunggu sambil cengar cengir sendiri.

Sulthan nama anak itu, untuk anak laki-laki seusianya, ia termasuk anak yang pintar, dia bisa menulis walaupun masih belepotan, dan memorinya cukup tajam untuk mengingatku,, iapun tidak canggung bercerita tentang dirinya yang tidak lagi sekolah karena gurunya mengangganggap ia belum pas untuk sekolah.. baru kali ini saya temui anak seusianya yang tahu kenapa dia dikeluarkan dari sekolah.. beberapa menit bermain dengannya, aku menyimpulkan kalau anak ini berbeda dengan anak2 lain seusianya.. dia cerdas, dan ummm sangat aktif!  bahkan beberapa kali ia membuatku tertawa karena cerita-ceritanya yang lucu.. ia mengaku sering berenang di kolam ikan yang ada di taman belakang Lab Pramita, ketika kutanya dengan siapa ia berenang, dengan riang iapun menjawab “kan temen-temenku banyak tanteee….” sayapun mengernyit karena tak kulihat ada banyak  anak kecil dilab itu. “temen? mana temen-temenmu?” lalu dengan memperagakan tangannya ia menjawab “itu lhooo temen yg kecil kecil segini” sambil tangannya menyentuh lututnya, maksudnya temannya kecil-kecil setinggi lututnya. sayapun tertawa mendengar jawaban polosnya.. “emang ada? kok tante gak liat? ” anak itu menjawab “kan emang lagi gak ada tante,, adanya nanti,, kalo malem kan aku sering begadang disini sampe jam empat pagi” mendengar jawaban polosnya itu, aku berpikir itu hanya imajinasi anak kecil yang sedang asik bermain,, tapi yang membuatku tertarik, ia bahkan menyebutkan nama teman-teman kecilnya itu ” ada si comel, amel, kodel dan el el el yang lain,”

Jujur, malem itu aku  senang bisa bertemu dengan Sulthan, ada satu hal yang membuatku salut padanya, ketika kutanya tentang ibunya, masih dengan riang ia menjawab “kan ibuku uda meninggal,,” saat itu juga hatiku trenyuh tidak ada raut muka sedih sedikitpun,, akupun memberanikan diri untuk bertanya “meninggal kenapa dek?” masiiiiiih dengan cerianya dia bilang “kanker otak” oh tuhan.. aku speechless..

Iapun berlari lalu lalang, keluar dari ruang tunggu tempatku duduk.  gak lama setelah itu, ia muncul dengan menunggangi kuda-kudaan layaknya cowboy,, anak ini…. dalam hatiku, ingin sekali aku menggali cerita cerita serunya,, tiba-tiba ia bertanya padaku ‘tante,, mana coba aku liat giginya yang sakit!”  oo itu gakpapa tante,, aku juga sakit gigi kok,, ” lalu ia tanya “tante kok belum pulang, rumahnya mana?” lalu akupun menjawab ” rumahku di lebak bulus” dengan semangat ia bilang “oooo aku tauuu,, itu kan yang ada air mancurnya?? bundaran HI kan?? “

haha,, aku telah berbohong padanya,, sebenernya urusanku di Pramita sudah selesai sejak 30 menit yang lalu, aku tak punya alasan lain kenapa aku belum pulang,, yaa,, karena aku masih ingin main dan menggali cerita seru lainnya dari sulhtan.

Mungkin itu peristiwa kecil yang membuatku tersenyum, sekarangpun aku masih merasakan getaran semangat dan keceriaan bocah itu,, sungguh tidak ada kesedihan.. yang ia tahu, saat ini ia bisa berada di taman bermain yang besar dan megah dan banyak teman-teman kecil yang selalu mau diajak bermain dengannya..

 

Gallery
0

Sebuah Privelese

Dulu aku seorang ibu yang bekerja, sekarang aku seorang nenek yang bekerja. Sebagai penulis, aku bekerja di rumah. Aku menentukan jam kerjaku, aku tak perlu bingung memikrikam pakaian yang akan kukenakan atau urusan transportasi. Aku juga sring tampak seperti sedang tidak mengerjakan apa-apa. Ibu-ibu atau nenek-nenek lain yang pergi bekerja meninggalkan rumah setiap pagi untuk bekerja sering menyapaku dan berkata, “Kau sangat beruntung, kau tidak harus bekerja”.

Tentu saja aku bekerja. Karena bisa menghadapi dan menangani apa saja, aku tidak takut menghadapi kejutan dan bencana apapun yang terjadi dalam hidupku asalkan aku masih bisa bekerja. Itulah duniaku. Itulah saatku untuk mengekspresikan diri. Dulu- dengan mempunyai sesuatu yang khusus sebagai ungkapan jati diriku- aku merasa bisa menjadi ibu yang lebih baik dan sekarang aku merasa bisa menjadi nenek yang lebih baik. Ungkapan jati diriku adalah milikku. Tak penting apakah demi kemasyhuran, demi penghasilan, atau demi kepuasan batin karena mampu melakukannya. Itulah makna bekerja bagiku.

Anak-anakku bertumbuh dengan menghabiskan makan siang diantara naskah-naskahku, duduk di meja kerjaku sambil mengobrol denganku, dan mengira bahwa setiap ibu tidur dengan buku catatan dan pena di samping ranjang mereka. Suamiku tahu, hadiah terbesar yang bisa diberikannya kepadaku adalah sebuah mesik ketik dan saat-saat luang yang bisa kugunakan untuk melamun sambil memandang keluar jendela tempat segala macam ide berseliweran. Aku bukan jenis ibu-ibu yang aktif terlibat dalam berbagai acara di sekolah anak-anak atau yang kelezatan masakannya akan selalu dikenang. Aku tidak menjahit, tidak memanggang roti, tidak pula merawat rumah sedemikian rupa sehingga seisi rumah puas- sampai sekarang pun tidak. Tetapi aku bisa menulis. Itulah pekerjaanku, dan aku merasa istimewa karena hal itu. Lewat tulisanku, aku menyuarakan jati diriku.

Sejak dulu selalu begitu. Aku harus membereskan semua pekerjaan rumah tangga dengan cepat agar aku punya watu untuk bekerja. Aku harus menyiapkan makan siang dan makan malam dengan cepat agar aku bisa bekerja. Pekerjaan menjadi bonus bagiku. Hadiah istimewa. Hadiah yang akan kuterima dengan senang hati dan membuatku bisa memberikan lebih banyak untuk keluargaku. Aku merasa nyaman dan puas. Aku menemukan kegembiraan dalam kerja.

Tentu saja ada yang harus dikorbankan. Aku bukan “super mama”. Kadang-kadang aku terlalu capek untuk bisa menikmati saat-saat istimewa. Kadang-kadang aku begitu kesal dan frustrasi hingga tak dapat memberikan apa yang dibutuhkan anak-anakku. Kadang-kadang aku tidak bisa memenuhi harapan mereka dan bahkan membuat mereka kecewa. Tetapi, dari tahun ke tahun, selalu ada saat-saat yang begitu berharga dan membuatku sangat bersyukur. Biskuit renyah rasa kacang atau selai buatanku yang menunggu anak-anakku pulang sekolah. Dongeng-dongeng sebelum tidur yang kubacakan sambil berbaring bersama mereka. Percakapan-percakapan khusus dan pribadi yang akan mereka kenang seumur hidup. Tak ada kerja yang bisa merenggut saat-saat seperti itu dariku. Aku tidak harus berhenti bekerja karena hari sudah berakhir. Aku tidak harus mulai kerja karena hari baru sudah tiba. Pekerjaanku selalu ada, siang dan malam, sebagai penghiburku dan inspirasiku- meski kadang sebagai penyiksaku. Ketika melihatku berusaha menyesuaikan diri lagi setelah menjalani operasi kanker, suamuku berkata, “bekerjalah, maka kau akan merasa lebih sehat.”  Itulah yang kulakukan.

Anak-anakku melihatku bekerja hanya dengan mengenakan pakaian dalam, sambil berbaring di ranjang, kesakitan dan nyaris putus asa. “Mama ngapain?” tanya mereka waktu mendapatiku duduk menulis di tengah malam.

“Bekerja,” itu jawabanku. Karena aku merasa bekrja adalah sebuah privelese bagiku. Kadang pekerjaan menuntut totalitas. Kadang pekerjaan terasa sebagai anugerah.

Aktu tak pernah mencari nafkah sebagai penulis freelance. Penulis tidak bekerja seperti itu. Bukan penghasilanku yang membuatku terus bekerja. Bukan pula orang-orang dengan siapa aku bekerja, karena aku bekerja secara mandiri. Bukan pula pujian yang kuterima, karena sesungguhnya aku lebih banyak ditolak dan dicerca daripada dipuji. Aku senang bekerja karena pekerjaan memperluas duniaku danpersepsiku terhadap dunia.

Sekarang, diumur tujuhpuluhan, aku punya lebih banyak waktu dibandingkan dulu ketika anak-anakku masih kecil. Kini aku punya lebih banyak waktu luang di siang hari. Aku bisa lebih rileks. Pensiun. Menjalani hidup dengan santai. Atau belajar membuat masakan lezat yang akan dikenang sepanjang masa. Bisa saja aku memilih itu, tetapi aku tak mau. Kepada mereka yang menganggap aku tua dan sudah selesai, aku akan berkata, “Aku belum tua. Aku masih bekerja.”

Harriet May Savitz

———————–

dinukil dari “Chicken Soup for the Working Mom’s soul”. PT Gramedia Pustaka Utama.2010.

5

ibu bekerja tetap semangat!!

wooyooo,, sudah lama sekali saya tidak menulis di blog ini,, duh maaf ya,, bukannya saya ini lupa dg blog ini, noo noo its a big no no to me! tp memang akhir2 ini dunia rasanya jumpalitan di depan muka saya. (lebay.com)

beberapa waktu lalu, saya pindah kerja yg lebih mendekati arah rumah dg jarak tempuh setengah dr kantor sebelumnya, dan tentu saja dg profesi baru saya, sbg seorang sales di industrial consultant, a totally new world for me, tp emang saya ada dasar pedagang, jadi ga jet lag banget lah.

nahh disini saya pengen banget mengangkat ttg dunia ibu bekerja, mungkin ibu2 disini atau bapak2 yg baca juga punya pandangan lain ttg ibu bekerja? sok atuh tambah2 pengalaman n pandangan mengenai a working mom.  tdk ada tendensi apapun ya di postingan kali ini, tidak mendiskreditkan ibu bekerja maupun ibu rumah tangga, bagi saya, ibu adalah ibu. tidak bisa dikotak2in hanya karena profesi. dan profesi sebagai ibulah yg menurut saya paling  mulia di dunia ini.

ibarat intan permata, Tuhan percaya kepada seorang ibu untuk membina titipan tuhan ini  (tentunya ayah juga yaa) berarti kan kepercayaan penuh yg diberikan tuhan kepada kita sebagai org tua gak bisa disia2kan begitu saaja kan?

dilema sempat saya alami sebagai working mom., di satu sisi saya ingin sekali menjadi full time mom, tp di sisi yg lain sy juga ingin mengaktualisasikan diri saya di dunia kerja. memang, hal itu seperti dua mata uang yg tidak bisa dipisahkan, dimana dua duanya butuh perhatian penuh dan konsentrasi penuh juga.

sebagai wanita biasa, saya pun mengalami yg namanya capek, gerah, pegel, sedih, bahkan tak jarang sy menangis siang2 ketika memandangi foto anak saya. tapi balik lagi, saya punya cita2,,, saya ingin menjadi seorang ibu yang kuat. yang nantinya bisa memberikan yg terbaik untuk anak2ku. sesosok ibu yg bisa diandalkan oleh anak2 baik dalam hal kasih sayang, finansial maupun sebagai teman.

saya ingin menjadi wanita yg sempurna, entah itu sebagai seorang ibu pekerja maupun enterpreuneur. doakan saya yaa,, utk bisa menjadi seorang wanita, ibu, istri yg terbaik utk keluarga.

amiinn