cerita pinggir ciliwung

Memasuki rumahnya, tidak menunjukkan kekurangan sama sekali. memang, kalo diliat dari lokasi, rumahnya berada tepat beberapa meter dipinggir sungai Ciliwung dan memang disitulah biasanya banjir melanda.

Televisi 40 inchi, kulkas dua pintu, sofa empuk lengkap berada diruang tamunya, rumah itu begitu sejuk, apalagi kalau berada di lantai dua dengan pemandangan pohon-pohon yang meniupkan kesejukan ditengah panasnya Jakarta di musim panas.

Harum masakan istri bang Sule menggugah seleraku,, aku tak kuasa menyembunyikan ke-mupeng-an-ku, langsung saja aku menuju ke dapur dan mencari piring dan nasi “Tante… enak tuh kayanya hehehe” godaku ke tante Lolly, istri bang Sule yang sudah kuanggap sebagai tanteku sendiri. Seorang wanita keturunan Ambon yang lahir di Jakarta dan tinggal di kampung yang banyak orang Ambonnya juga. Kalau dilihat dari keseharianya, tante Lolly adalah ibu yang baik, kadang galak memang jika anak2nya yang masih kecil bemain di dekat sungai Ciliwung, ia juga tetangga yang baik dan murah hati, sering kali ia membagi-bagikan amplop ke tetangga-tetangga ketika Lebaran walaupun dirinya tidak merayakannya, atau perjamuan makan dirumahnya untuk tetangga atau kerabatnya ketika Natal tiba.

Dengan lahap dan tanpa malu, akupun menghabiskan sepiring nasi beserta sayur rebung, tempe goreng, ikan asin dan sambal yang dimasak Tante Lolly, hmmm lezaat.

Sambil nonton TV dan makan, aku menunggu Bang Sule yang sedang siap-siap sebelum kutembaki dengan pertanyaan beruntun untuk skripsiku. Tidak gampang memang bagi seorang gadis berjilbab sepertiku memasuki kampung tempat Bang Sule tinggal, kampung itu, terletak di daerah Jakarta Timur yang terkenal dengan banyaknya junkie dan bede, gak tanggung-tanggung, semua jenis narkoba beredar dikampung itu seperti kacang rebus saja.

“bentar Rin,, hari ini gw belum pake,, sorry ya,, ” kata bang Sule kepadaku.

“nyante aja bang,, “jawabku, diam-diam aku penasaran juga dengan benda itu,, serbuk putih yang dibungkus plastik kecil yang didrag engan lintingan uang 50ribuan. Akupun menciumi serbuk itu, cuma mencium aromanya saja, sumpah! aku tidak berani lebih! wanginya aneh,,tiba-tiba aku kaget bukan main, Bang Sule yang dari tadi sibuk dengan serbuk putih itu, tiba-tiba muarah besar kepadaku. sambil menampel tanganku yang sedang bermain dengan serbuk putih itu, dia berteriak ” SEKALI LAGI LO MAIN MAIN SAMA BARANG ITU, GW GAK MAU TEMENAN SAMA ELO!!! CUKUP GUE AJA RIN DAN ANAK-ANAK DISINI YANG NGRASAIN GETAHNYA!!! LO GAK MAU KAN KAYA SI BUKI YANG SEKARAT GITU!!!”

hufff,,, jantungku rasanya mau copott, antara kaget,takut, haru dan uuhh,, semuanya campur aduk. Memang, dikampung ini sudah banyak berjatuhan korban keganasan narkoba, entah itu karna OD, ketangkep polisi, dipenjara, sakit di sel tahanan, sampai meninggal karena HIV. Aku liat sendiri beberapa temen2 di kampung itu yang aku kenal sejak ia gemuk, mengurus, kurus lagi, lebih kurus lagi dan akhirnya meninggal karena kekebalan tubuh yang semakin melemah sementara virus HIV yang menyebar semakin ganas.

Pilihan yang cukup berani memang, ketika aku memilih untuk menjadi salah satu manager kasus HIV/AIDS di sebuah LSM lokal. ini memang konsekuensiku ketika aku memberanikan diri untuk mengambil jurusan Kriminologi dan menulis skripsi yang membuktikan bahwa crime is learn dalam kehidupan sosial,, dan kejahatan yang kupilih untuk kupelajari adalah profesi sebagai seorang bandar narkoba.

Kembali ke Bang Sule,, sudah lama namanya melambung dikalangan para junkie, ia punya banyak nama keren. Aku dengerin cerita hidupnya yang berliku, pernah di suatu siang hari di tahun 2000, terjadi keributan disekitar rumahnya, ternyata banyak sekali polisi yang mengepung rumah Bang Sule karena laporan dari seorang ibu yang merasa anaknya sebagai korban dari profesi Bang Sule. Iapun memutar otak untuk melarikan diri, yang kebetulan memang sedang tidak berada di dalam rumah. Bang Sule berlari dan terjun ke sungai Ciliwung, sial memang, banyak orang yang melihatnya, sehingga arahan pistol polisi mengarah padanya. Tiga tembakan mengenai mulut dan kakinya, namun ia tetap berlari dan berlari sampai akhirnya menghilang dari pandangan polisi di seberang sungai Ciliwung.

Berbulan-bulan ia mengasingkan diri di sebuah desa di pinggiran Karawang, tidak ada yang tahu identitasnya, iapun memberanikan diri untuk mengambil peluru yang selama tiga bulan betah menggantung di lehernya dengan pisau dapur yang ia miliki. Memang, anggapan bahwa orang Jawa itu sakti terbukti di Bang Sule, ia tidak cacat oleh dua peluru yang mengenainya, hanya saja, giginya ompong sebelah dan langit-langit mulutnya bolong tertembus timah panas.

Setelah masa pengasingannya, berbulan-bulan berganti tahun, ia memulai pekerjaan yang normal, namun tuntutan ekonomi dan kebutuhan keluarga dengan lima anak yang harus ditanggung membuatnya mengikuti nalurinya untuk kembali beroperasi lagi di kampungnya. Dan disinilah kita berada, diruang tamunya dengan beberapa plastik barang yang baru selesai didragnya.

Jika ditanya tentang perasaannya, dihatinya yang paling dalam, ia seringkali merasa bersalah apalagi jika bertemu dengan ibu-ibu yang anak-anaknya adalah pasien nya yang sudah almarhum atau sekolah lagi di Cipinang, ingin rasanya mengembalikan mereka semua, namun itu sudah terlambat dan tidak menghambatnya untuk terus beroperasi.

Pertengahan tahun 2005, ia terus menjalani profesinya sebagai bede tanpa diketahui oleh tetangga-tetangganya. Hanya orang-orang tertentu saja yang tahu bahwa dirinya dan tentu saja assisstennya adalah seorang bede.

Bulan September yang cerah tahun 2006, di belakang Balairung UI aku berpose dengan togaku, disampingku, ada ibuku dan kakak sulungku merangkulku. Setelah empat setengah tahun kuliah, akhirnya aku lulus juga. Senang rasanya mengingat petualanganku menulis skripsi dan berkecimpung lama di daerah merah yang dari dulu aku membencinya, namun setelah bertemu dengan junkie-junkie disitu, pandanganku berubah tentang tempat itu. Ada sebuah cerita menarik, di pinggiran sungai Ciliwung itu.. tiba-tiba aku merasa rindu dengan masakan tante Lolly yang enak itu. Setelah 4 bulan tidak mengunjunginya, akupun berniat untuk main kerumahnya.

“lo gak usah kesini, gak ada orang dirumah bang Sule, dia dan tante Lolly ketangkep”

Huff,, pesan singkat di hapeku itu rasanya sangat pedas. bang Sule beserta assisstennya, yang tak lain adalah isrinya sendiri itu tertangkap basah ketika sedang bertransaksi dirumahnya.

* bukan nama sebenernya
taken from my previous blog http://riniandhika.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s