Gallery

Sebuah Privelese

Dulu aku seorang ibu yang bekerja, sekarang aku seorang nenek yang bekerja. Sebagai penulis, aku bekerja di rumah. Aku menentukan jam kerjaku, aku tak perlu bingung memikrikam pakaian yang akan kukenakan atau urusan transportasi. Aku juga sring tampak seperti sedang tidak mengerjakan apa-apa. Ibu-ibu atau nenek-nenek lain yang pergi bekerja meninggalkan rumah setiap pagi untuk bekerja sering menyapaku dan berkata, “Kau sangat beruntung, kau tidak harus bekerja”.

Tentu saja aku bekerja. Karena bisa menghadapi dan menangani apa saja, aku tidak takut menghadapi kejutan dan bencana apapun yang terjadi dalam hidupku asalkan aku masih bisa bekerja. Itulah duniaku. Itulah saatku untuk mengekspresikan diri. Dulu- dengan mempunyai sesuatu yang khusus sebagai ungkapan jati diriku- aku merasa bisa menjadi ibu yang lebih baik dan sekarang aku merasa bisa menjadi nenek yang lebih baik. Ungkapan jati diriku adalah milikku. Tak penting apakah demi kemasyhuran, demi penghasilan, atau demi kepuasan batin karena mampu melakukannya. Itulah makna bekerja bagiku.

Anak-anakku bertumbuh dengan menghabiskan makan siang diantara naskah-naskahku, duduk di meja kerjaku sambil mengobrol denganku, dan mengira bahwa setiap ibu tidur dengan buku catatan dan pena di samping ranjang mereka. Suamiku tahu, hadiah terbesar yang bisa diberikannya kepadaku adalah sebuah mesik ketik dan saat-saat luang yang bisa kugunakan untuk melamun sambil memandang keluar jendela tempat segala macam ide berseliweran. Aku bukan jenis ibu-ibu yang aktif terlibat dalam berbagai acara di sekolah anak-anak atau yang kelezatan masakannya akan selalu dikenang. Aku tidak menjahit, tidak memanggang roti, tidak pula merawat rumah sedemikian rupa sehingga seisi rumah puas- sampai sekarang pun tidak. Tetapi aku bisa menulis. Itulah pekerjaanku, dan aku merasa istimewa karena hal itu. Lewat tulisanku, aku menyuarakan jati diriku.

Sejak dulu selalu begitu. Aku harus membereskan semua pekerjaan rumah tangga dengan cepat agar aku punya watu untuk bekerja. Aku harus menyiapkan makan siang dan makan malam dengan cepat agar aku bisa bekerja. Pekerjaan menjadi bonus bagiku. Hadiah istimewa. Hadiah yang akan kuterima dengan senang hati dan membuatku bisa memberikan lebih banyak untuk keluargaku. Aku merasa nyaman dan puas. Aku menemukan kegembiraan dalam kerja.

Tentu saja ada yang harus dikorbankan. Aku bukan “super mama”. Kadang-kadang aku terlalu capek untuk bisa menikmati saat-saat istimewa. Kadang-kadang aku begitu kesal dan frustrasi hingga tak dapat memberikan apa yang dibutuhkan anak-anakku. Kadang-kadang aku tidak bisa memenuhi harapan mereka dan bahkan membuat mereka kecewa. Tetapi, dari tahun ke tahun, selalu ada saat-saat yang begitu berharga dan membuatku sangat bersyukur. Biskuit renyah rasa kacang atau selai buatanku yang menunggu anak-anakku pulang sekolah. Dongeng-dongeng sebelum tidur yang kubacakan sambil berbaring bersama mereka. Percakapan-percakapan khusus dan pribadi yang akan mereka kenang seumur hidup. Tak ada kerja yang bisa merenggut saat-saat seperti itu dariku. Aku tidak harus berhenti bekerja karena hari sudah berakhir. Aku tidak harus mulai kerja karena hari baru sudah tiba. Pekerjaanku selalu ada, siang dan malam, sebagai penghiburku dan inspirasiku- meski kadang sebagai penyiksaku. Ketika melihatku berusaha menyesuaikan diri lagi setelah menjalani operasi kanker, suamuku berkata, “bekerjalah, maka kau akan merasa lebih sehat.”  Itulah yang kulakukan.

Anak-anakku melihatku bekerja hanya dengan mengenakan pakaian dalam, sambil berbaring di ranjang, kesakitan dan nyaris putus asa. “Mama ngapain?” tanya mereka waktu mendapatiku duduk menulis di tengah malam.

“Bekerja,” itu jawabanku. Karena aku merasa bekrja adalah sebuah privelese bagiku. Kadang pekerjaan menuntut totalitas. Kadang pekerjaan terasa sebagai anugerah.

Aktu tak pernah mencari nafkah sebagai penulis freelance. Penulis tidak bekerja seperti itu. Bukan penghasilanku yang membuatku terus bekerja. Bukan pula orang-orang dengan siapa aku bekerja, karena aku bekerja secara mandiri. Bukan pula pujian yang kuterima, karena sesungguhnya aku lebih banyak ditolak dan dicerca daripada dipuji. Aku senang bekerja karena pekerjaan memperluas duniaku danpersepsiku terhadap dunia.

Sekarang, diumur tujuhpuluhan, aku punya lebih banyak waktu dibandingkan dulu ketika anak-anakku masih kecil. Kini aku punya lebih banyak waktu luang di siang hari. Aku bisa lebih rileks. Pensiun. Menjalani hidup dengan santai. Atau belajar membuat masakan lezat yang akan dikenang sepanjang masa. Bisa saja aku memilih itu, tetapi aku tak mau. Kepada mereka yang menganggap aku tua dan sudah selesai, aku akan berkata, “Aku belum tua. Aku masih bekerja.”

Harriet May Savitz

———————–

dinukil dari “Chicken Soup for the Working Mom’s soul”. PT Gramedia Pustaka Utama.2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s