cerita si Sulthan.. belajar hidup dari manapun..

Pagi itu, seperti biasa aku naik busway menuju kantorku di kuningan. tumben-tumbennya aku dapat tempat duduk di pagi hari yang penuh sesak itu.. Seramai antrian sembako gratis, bejubel orang yang buru-buru menuju kekantornya, untung diriku sudah mahir dalam mencari celah diantara tubuh-tubuh penumpang lain.. jadi pagi itu aku bisa meneruskan rasa kantukku di busway..

Antara sadar dan tidak,  beberapa menit berlalu,  sampailah kami sebusway di halte Mampang, disela-sela setengah mimpiku,  samar-samar kudengar suara bocah laki-laki, lalu bocah kecil itu berdiri tepat didepanku, otomotasi secara naluri sayapun terbangun dan berdiri mempersilahkan bocah tadi untuk duduk. Aku pikir, bocah itu bersama  seorang ibu yang berdiri di depanku, ternyata dia bersama seorang pria usia 40tahunan yang dipanggil “ayah’ olehnya,,setelah itu akupun berusaha mengumpulkan nyawa untuk  berdiri sampai tepat di depan halte kuningan madya.

Hari itu, tidak ada yang spesial, jam demi jam kulalui hari seprti biasa, kecuali sakit gigiku yang luar biasa hingga saya menangis kesakitan.. Tak berasa jam menunjukkan pukul 5.30  sore, dan segera kubergegas untuk melangkah pulang menuju ke klinik laboratorium Pramita, yang terletak di Mampang untuk merontgent gigiku.  aku duduk termangu  menunggu hasil rontgent di ruang tunggu.. tiba-tiba ada seorang pria 40tahunan yang membuyarkan lamunanku “eh mba,,, mba yang tadi dibusway kan???” saya pun bingung tidak ingat apapun tentang laki-laki itu, tiba-tiba muncul bocah tadi “”ehh,, tante yang tadi pagi di busway kan??” aku baru inget kalo tadi pagi aku bertemu mereka.. ternyata bocah itu sedang ikut ayahnya bekerja sebagai teknisi di Lab Pramita..  setelah percakapan singkat itu, laki-laki itupun menghilang dari ruang tunggu, namun bocah berumur 5 tahun itu masih memandangku diruang tunggu sambil cengar cengir sendiri.

Sulthan nama anak itu, untuk anak laki-laki seusianya, ia termasuk anak yang pintar, dia bisa menulis walaupun masih belepotan, dan memorinya cukup tajam untuk mengingatku,, iapun tidak canggung bercerita tentang dirinya yang tidak lagi sekolah karena gurunya mengangganggap ia belum pas untuk sekolah.. baru kali ini saya temui anak seusianya yang tahu kenapa dia dikeluarkan dari sekolah.. beberapa menit bermain dengannya, aku menyimpulkan kalau anak ini berbeda dengan anak2 lain seusianya.. dia cerdas, dan ummm sangat aktif!  bahkan beberapa kali ia membuatku tertawa karena cerita-ceritanya yang lucu.. ia mengaku sering berenang di kolam ikan yang ada di taman belakang Lab Pramita, ketika kutanya dengan siapa ia berenang, dengan riang iapun menjawab “kan temen-temenku banyak tanteee….” sayapun mengernyit karena tak kulihat ada banyak  anak kecil dilab itu. “temen? mana temen-temenmu?” lalu dengan memperagakan tangannya ia menjawab “itu lhooo temen yg kecil kecil segini” sambil tangannya menyentuh lututnya, maksudnya temannya kecil-kecil setinggi lututnya. sayapun tertawa mendengar jawaban polosnya.. “emang ada? kok tante gak liat? ” anak itu menjawab “kan emang lagi gak ada tante,, adanya nanti,, kalo malem kan aku sering begadang disini sampe jam empat pagi” mendengar jawaban polosnya itu, aku berpikir itu hanya imajinasi anak kecil yang sedang asik bermain,, tapi yang membuatku tertarik, ia bahkan menyebutkan nama teman-teman kecilnya itu ” ada si comel, amel, kodel dan el el el yang lain,”

Jujur, malem itu aku  senang bisa bertemu dengan Sulthan, ada satu hal yang membuatku salut padanya, ketika kutanya tentang ibunya, masih dengan riang ia menjawab “kan ibuku uda meninggal,,” saat itu juga hatiku trenyuh tidak ada raut muka sedih sedikitpun,, akupun memberanikan diri untuk bertanya “meninggal kenapa dek?” masiiiiiih dengan cerianya dia bilang “kanker otak” oh tuhan.. aku speechless..

Iapun berlari lalu lalang, keluar dari ruang tunggu tempatku duduk.  gak lama setelah itu, ia muncul dengan menunggangi kuda-kudaan layaknya cowboy,, anak ini…. dalam hatiku, ingin sekali aku menggali cerita cerita serunya,, tiba-tiba ia bertanya padaku ‘tante,, mana coba aku liat giginya yang sakit!”  oo itu gakpapa tante,, aku juga sakit gigi kok,, ” lalu ia tanya “tante kok belum pulang, rumahnya mana?” lalu akupun menjawab ” rumahku di lebak bulus” dengan semangat ia bilang “oooo aku tauuu,, itu kan yang ada air mancurnya?? bundaran HI kan?? “

haha,, aku telah berbohong padanya,, sebenernya urusanku di Pramita sudah selesai sejak 30 menit yang lalu, aku tak punya alasan lain kenapa aku belum pulang,, yaa,, karena aku masih ingin main dan menggali cerita seru lainnya dari sulhtan.

Mungkin itu peristiwa kecil yang membuatku tersenyum, sekarangpun aku masih merasakan getaran semangat dan keceriaan bocah itu,, sungguh tidak ada kesedihan.. yang ia tahu, saat ini ia bisa berada di taman bermain yang besar dan megah dan banyak teman-teman kecil yang selalu mau diajak bermain dengannya..

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s