Aside
2

Saya akan memulainya dari masa kecilku, meskipun sudah beberapa kali dituliskan dan semoga tidak jadi cerita usang yang membosankan…

Dibesarkan oleh seorang  single mother with seven childrens,  saya tumbuh berkembang dengan asuhan kadang budhe kadang tetangga kadang pengasuh merangkap asisten rumah tangga dan orang lain selain ibuku. Otomatis, dengan status beliau  sebagai  orang tua tunggal bagi kami, memaksanya untuk mencari  rejekiNya di luar rumah (jaman dulu belum ada internet juga kan? So definitely beliau tdk bisa membuka toko online).

Dari profesi sebagai penjual kue gendong keliling, guru SMP, guru privat, bendahara/accounting di perusahaan adiknya, maupun penjual pakaian di pasar dan perkantoran, ibuku nyaris menghabiskan 60% waktunya diluar rumah.

Apakah saya menangis? Ya!! Awalnya! Tapi saya pun menjadi anak yg tidak cengeng dan manja. Rini kecil waktu itu bisa melihat kondisi walaupun selebihnya tidak bisa. Apabila memang sedang keluar manjanya, ya saya akan meraung keras2 untuk  mencari perhatian ibuku, membuatnya berat utk melangkah keluar rumah meninggalkanku , si anak ragil ini, yang ujungnya adalah ibuku membawa serta rini  kecil ini ke SMP tempat ia mengajar, yang tak jarang juga aku  berulah di tempat itu.

Apakah itu dianggap sebagai protes karena ibuku bekerja diluar rumah ? tidak juga… setelah saya telaah akhir2 ini, saya tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang dari ibuku, meskipun beliau bekerja di luar rumah.

Saya tidak keberatan untuk memakan masakan Mbah Minah (pengasuhku waktu itu) bukannya masakan bikinan tangan ibuku. Saya tidak protes ketika ibuku baru pulang menjelang maghrib, setelah saya rapih dan siap ke masjid. Apakah saya merasa pendidikan agamaku kurang? Tidak juga, tanpa ibuku ada disisiku 24jam pun, kesadaran dan nilai-nilai yg ditanamkan ibuku tetap aku jaga.

Justru disitu ibuku mengajarkan –secaratidaklangsung- bahwa, dengan atau tanpa ibuku berada di sisiku, sholat wajib, mengaji dan baca yasin ke makam ayahku setiap malam jumat sudah m

enjadi hal yang wajib bagiku, jika aku merupakan anak solehah, sesuai amanah ayahku saat menitipkan ketujuh anaknya kepada ibuku. Dan aku memilih untuk balajar menjadi anak yang solehah waktu itu.

Bahwa pelaksanaan perintah agama, mengamalkan  nilai hidup dan budaya tidaklah harus dilakukan hanya pada saat ada wujud ibuku disampingku.

Pernah bandel?? Pasti! Siapa disini yang seumur hidupnya tidak pernah melakukan kesalahan??  Kita manusia biasa juga kan? Pernah meninggalkan sholat? Atau pura-pura sudah sholat?? Pernah!! Namun bagiku, itu proses pembelajaran bagi si bocah yang baru beranjak gede waktu itu.

Mimpi dan cita-cita besar ibuku, untuk memiliki anak2 yang soleh dan kelak bermanfaat bagi agama dan bangsanyalah yang menjadi bahan bakar ibuku untuk terus berusaha, walau apapun yang terjadi. Kadang sindiran dan kata sinis terlontar dari orang lain baik mengenai keluargaku atau statusnya yang janda, tidak sedikitpun mematahkan semangatnya. Semata-mata demi memberikan pendidikan yang cukup bagi ketujuh anaknya.

Seiring berjalannya waktu, kamipun beranjak remaja dan pelan-pelan menjadi manusia dewasa. Beliau rela kami “tinggalkan” demi kepentingan menuntut ilmu. Tidak pernah ada batasan lokasi maupun siapapun guru yang kami pilih demi untuk pendidikan. Beliau membebaskan kami memilih sekolah yang pas bagi kami. Dari ketujuh anaknya, lima dari kami telah meninggalkan kampung halaman sejak lulus SMP, termasuk diriku, yang memilih untuk melanjutkan studi di Jogja.

Dari beliau, saya mengambil pelajaran bahwa anak bukanlah properti milik kita yang harus di kekepin terus, mereka individu yang bebas menentukan masa depannya, tanggungjawabnya sebagai orang tua adalah membekali kami dengan ilmu hidup, dan tentu saja dana, meskipun tidak banyak yang kami dapat namun kami berusaha untuk cukup dan mencukup-cukupkan. Tapi justru disitulah serunya!

jalan2 sama embah

Kami tumbuh tidak bergelimang harta dan segala fasilitas seperti teman kami yang lain, tapi sekarang justru kami bersyukur dg keterbatasan kami waktu itu, karena jujur, kami takut untuk menjadi manusia yang tidak amanah apabila diberi kelebihan.

Saya hijrah ke Jakarta begitu lulus SMA dan masuk ke universitas negeri di Depok (bukan Jakarta) dengan jurusan yang memang saya sukai, Kriminologi! Mungkin ada yang beranggapan bahwa ideku gila, hidup di jogja –yg katanya murah-  saja sudah megap-megap rasanya, lah ini saya nantangin diri untuk hidup dan tumbuh di Jakarta! Tapi entah itu intuisi atau mimpi, saya melihat cahaya baru di kota yang katanya sumpek sesak ini.  Tapi justru disinilah saya menemukan ritme perjuangan yang lebih dahsyat, dengan bekal beberapa ribu rupiah untuk bekal hidup sebulan disini merupakan tantangan  yang menarik. Dikota ini juga saya melihat kesempatan yang jauuh lebih luas untuk berkembang dan mengeksplor kemampuan kita, bahkan memecahkan batasan kesanggupan kita, dan yang terpenting di kota ini jugalah saya menemukan banyak sahabat dan teman sejati.

Disini, saya lebih jauh meninggalkan ibuku! Otomatis lebih jarang pulang dengan kondisi ekonomiku saat itu, apakah ibuku merasa “ditinggalkan?” ataukah aku meninggalkan ibuku lebih jauh ini karena dulu waktu kecil saya merasa “ditinggalkan” juga oleh ibuku yang bekerja di luar rumah?

Jawabku adalah tidak! Sama sekali kami tidak pernah merasa atau bahkan sempat berpikir tentang hal tinggal meninggalkan ini. Kami murni berniat kemanapun kaki ini melangkah, adalah untuk mencari Ridho Nya, selama ibu meridhoi, disitulah ridho Allah, dan saya yakin akan hal itu.

Masa kuliah yang memakan waktu hampir lima tahunpun belum cukup lama bagiku terpanggil untuk segera “pulang” ke kampung halaman. Apakah ini –lagi-lagi- termasuk aksi balas dendamku kepada ibuku yang meninggalkanku saat aku kecil untuk bekerja di luar rumah? Not at all! Dan bahkan menurutku tidak ada korelasinya sama sekali.  Di jaman sekarang  yang lebih dinamis, terlepas dari pengaruh budaya barat atau tidak, dajjal atau bukan, namun Jakarta-Temanggung itu hanyalah 3 jam dengan pesawat dan 9 jam jalan darat.  Bagi ibuku dan kami, kualitas komunikasi dan relasilah yang terpenting, walaupun beberapa kali mengalami krisis kualitas komunikasi dan relasi dengannya, namun kami  menganggapnya sebagai hal yang lumrah, karena keluarga itu merupakan kumpulan emosi bagi para anggotanya, ya kangen, cinta, kadang sebel kadang benci, berantem, baikan, saling semangat menyemangati maupun sibuk masing-masing adalah bumbunya.

“kepakkan sayapmu kemanapun kamu mau, tapi jangan pernah lupa untuk selalu berpijak ke tanah” kira-kira seperti itulah  motto ibuku, kemanapun kami pergi  dan mencari hidup, tetaplah ingat asal usul dan nilai dasar hidup. Dan sekarang, kami bertujuhpun sudah berganti status menyamai ibu, yaitu sebagai orang tua.

Pilihan yang bebas dengan segala konsekuensinya bergulir didepan mata saya,  mau single atau menikah,  berkarir atau usaha, memiliki anak atau tidak, dan sayapun  memilih untuk menjadi istri dan ibu bekerja. Bukan untuk gaya-gayaan atau mengejar karir, bagiku karir hanyalah sarana, selebihnya adalah pengembangan diri dan tentu saja mencari nafkah. Lho, nafkah kan kewajiban suami? Betul sekali! Tapi tidak haram juga apabila seorang istripun ikut membantu suami mencari rejeki.

Teganya kamu ninggalin anak yang masih bayi! Ya,,, dan aku akan lebih tega untuk tetap bersamanya namun dalam kondisi yang “tidak aman secara finansial maupun kesejahteraan”,  saya yakin rejeki itu Allah yang atur, ya mungkin saat ini adalah giliranku untuk mencari rejeki diluar rumah  sama halnya dengan ibuku waktu aku kecil bedanya saat ini posisiku hanyalah pemain pendukung dalam hal mencari nafkah bersama dengan suami.

the three of us

Lho, tp kan suamimu juga bekerja? Betul! Tapi kami punya mimpi, bahwa apa yang kami lakukan tidaklah semata-mata untuk kesejahteraan diri sendiri, namun ada hak orang lain yang Allah berikan melalui keringat kerja keras kami.  Tidak perlu diisebutkan juga kemana kami menyalurkan sebagian rejeki kami selama ini,  yang paling penting adalah sepenggalan ayat yang menyebutkan bahwa “janganlah kami meninggalkan anak-anak yang  lemah di belakangmu” Nah! Inilah intinya! Saya tidak mau kelak anak-anak kami hidup dalam kekurangan finansial yang memungkinkan untuk beberapa kesempatan berkembang lebih  baik menjadi terhambat.  Tidak terlalu muluk-muluk, kami bermimpi kelak, anak-anak kami bisa menjadi apapun yang mereka mau  dan kami siap untuk itu. Tidak hanya semata mengejar gaji sekian atau bisa beli ini itu, namun lebih ke pursue our dreams.. yang mana dreams itu tidak bisa kami raih jika kami tidak berusaha “lebih” keras.

Pernah seorang teman berpendapat bahwa saya ini terlalu mengejar karir. lho, justru saya yang ngerasa dikejar kok, bahkan diberi kesempatan yang banyak untuk berkarir. Jujur, selama ini saya tidak pernah melamar pekerjaa namun selalu ada seorang  sahabat, relasi maupun teman baru yang menawarinya. Kemudian, jika memang cocok dengan naluri dan ritmeku, maka saya terima dan jalani.

Kadang ada juga pendapat yang “sedikit” menyudutkan peran ibu bekerja, apalagi apabila disesuaikan dengan ajaran agama, dimana seorang wanita wajiblah mengasuh anaknya di rumah dengan tangannya sendiri, atau dengan penggalan fatwa bahwa seorang wanita haram hukumnya untuk bekerja di luar rumah, dengan menitipkan anak ke pembantu atau tempat penitipan anak maka nantinya ketika kita tua, anak akan menitipkan kita ke panti jompo .

Waduh! Sesimple itukah rumusannya? Jika memang ibu haram bekerja di luar rumah dengan anggapan bahwa ia meninggalkan anaknya dan menitipkannya ke orang lain berarti seorang anak juga haram dong meninggalkan orang tuanya untuk mengenyam pendidikan diluar rumah? saya rasa akan lebih fair jika rumusnya begitu, bukan bermaksud untuk menawar,tapi adakah data empiris yang menunjukkan korelasi itu? Bahwa kebanyakan manula di panti jompo adalah orang yang dahulunya meninggalkan anak-anak mereka demi bekerja diluar rumah??

Jika ditanya saya mau apa tidak untuk menjadi ibu rumah tangga? Ya saya mau bangett!! Salut saya berlipat-lipat bagi sahabat yang mendedikasikan waktunya 100% untuk mengasuh anak mereka sendiri dirumah apalagi jika dibarengi dengan kualitas waktu yang 100% juga, bukan hanya kuantitas. Namun balik lagi, setiap manusia punya mimpi, tujuan hidup dan nilai yang mereka yakini masing-masing. Untuk saat ini, saya memilih untuk menjalani kedua peran ini, yaitu ibu rumah tangga, istri dan ibu bekerja. Karena toh, balik ke ajaran ibuku, bahwa nilai hidup, peran ibu, perintah agama yang diajarkan ke anak, bukanlah suatu hal yang harus dijalankan hanya jika wujud ibu itu ada di samping kita 24 jam karena itu bukanlah jaminan.

Mungkin saya adalah korban keganasan krisis ekonomi dengan tingkat inflasi yang tinggi. Saya yakin sepuluh tahun yang lalu, kebutuhan hidup tidaklah setinggi sekarang. Setiap orang punya strategi masing-masing untuk mengatur cashflow keluarga mereka. Ada yang dengan 100% tanggungjawab finansial ada di pundak suami, namun ada juga keluarga yang membaginya berdua. Namun tetap saja, sorot lampunya ada di istri/ibu, yaitu peran mereka menjadi ibulah yang dipertanyakan.

Tega ninggalin anak, gila kerja, tidak mensyukuri pendapatan suami, tidak merasa cukup atau anggapan-anggapan lain yang mungkin timbul dari orang lain, seringkali terbesit di pikiranku. Yang mereka tidak tahu adalah bagaimana saya jumpalitan mengatur waktuku, untuk anak, suami, pekerjaan dan terakhir adalah waktu untuk diriku sendiri.  Saya mengawali hari sekitar jam 3-4 pagi, yang harus selalu langsung ON dengan ritme anakku yang sudah 100% charged pada jam segitu. Saya pikir, kapan lagi waktu berkualitasku dengan anak kalau bukan jam 4 pagi hingga aku berangkat kerja sekitar jam 6.30. sebelum berangkatpun saya berusaha sekuat tenaga untuk tetap menyuapi anakku, atau sekedar menyiapkan teh hangat, sarapan dan bekal untuk suamiku.

Cukupkah hanya 2,5 jam untuk anak? Tidak, namun dengan hanya segitunyalah waktu pagiku dengan anak, ya itu yang saya manfaatkan 100% walaupun tertatih dan mengantuk sangat, karena setiap 1-2 jam sebelumnya, anakku masih bangun untuk minta susu. Bagaimana dengan waktu bersama suami? Itupun ada slotnya sendiri, yaitu jam pulang kantor, atau sekitar jam 7 malem – 10 malam. Hanya 3 jam? Ya! Dan itupun juga yang kami manfaatkan dengan sungguh-sungguh. Dari mengobrol tentang sehari-hari maupun mimpi dan masa depan kami atau hanya leha-leha bersantai sambil nonton tv.

me and me sonshine

Dengan ritme yang sudah kami miliki ini, ya itulah hidup kami, ya itu lah ritme kami, mungkin akan berbeda dengan keluarga lainnya. Apakah dengan ritme seperti itu anakku merasa terabaikan? Saya rasa tidak, karena toh setiap pagi dan siang atau sore sebelum saya pulang selalu menyempatkan diri menelepon anakku di rumah dan selalu keep in touch dengan suami di kantor. Jadi disini, bukanlah eksistensi wujud fisiklah yang kami jalani, melainkan kontak batin, komunikasi efektif dan saling menghargai satu sama lain. Dan yang pasti ya harus siap dengan segala konsekuensinya. Capek pegal kadang menyetir sambil bobo (eh, ini sih jgn ditiru) maupun mencuri waktu tidur di toilet pernah saya lakukan. Tapi alhamdulillahnya, Allah selalu memberiku jalan terbaik dengan memberikan saya pintu rejeki dari pekerjaan yang bisa saya atur waktunya. Intiya, jadi wanita masa kini memang harus pintar-pintar memilih peran dan mengatur waktu.

Keterbatasan waktu ini justru yang saya jadikan kelebihan. Lhoh, keterbatasan kok kelebihan?? Iya dong, karena dengan tahu bahwa waktu kita terbatas inilah yang membuat kita menghargai satu sama lain, menghargai setiap  kesempatan yang ada untuk menjali harmoni keluarga kami. Sama halnya dengan kondisi keuangan ketika saya kecil, dengan keterbatasan-keterbatasan itulah justru kami berkembang jauh lebih baik dan lebih santun, yang mungkin tidak akan seperti ini hasilnya apabila waktu itu  kami bergelimang harta.  Saat inipun, mungkin jika kami atau saya justru 100% dirumah, belum tentu bisa menghargai waktuku bersama anak sama halnya dengan saya menghargai waktu yang hanya 2,5 jam saja baginya.  Baiklah, saya mengakui, kadang-kadang saya kesiangan ke kantor karena ada anak kecil yang masih menempel dan mengunci tangannya di pundakku, atau ketika saya sudah siap berangkat  ada anak pintar yang sengaja mengacak-acak jilbabku karena protes atas kepergianku ke kantor ketika manjanya kumat, tapi apapun tantangannya, saya menikmati itu. Menikmati dan mensyukuri setiap detik moment dengan keluarga.

Bagi semua ibu, baik ibu rumah tangga maupun ibu bekerja, apapun profesi kita, kita adalah seorang ibu. Tidak usah dikotak-kotakkan dengan stempel bekerja dan rumah tangga ataupun stempel haram keluar rumah atau wajib didalam rumah yang belum tentu bisa 100% diikuti oleh setiap ibu . Toh kita sama-sama berusaha untuk menjadi ibu yang terbaik untuk anak-anak kita. Dan yang terpenting adalah menciptakan kualitas hubungan yang sehat dan pintar antara kita-anak-suami sebagai sebuah keluarga dan tim yang hebat.

2 thoughts on “motherhood stories o’ mine

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s